Bocah-bocah kecil itu tampak ceria. Pagi itu, mereka berlari ke sana ke mari di atas tanah rerumputan. Sesekali mereka bermain ayunan. Tiba-tiba saja mereka mengejar ayam, kelinci, dan beberapa jenis hewan lainnya. Beberapa di antaranya tampak asyik mengamati berbagai jenis bunga dan pohon rindang.

Sementara, sekelompok lainnya nampak khidmat belajar di ruang kelas terbuka yang menyatu dengan alam. Ya, pemandangan ini bisa ditemui di Trihita Alam Eco School yang terletak di Jalan Yukad Badung XXV Nomor 80-88, Renon, Denpasar, Bali.

Tak ada ruang tertutup di sekolah yang berdiri di atas areal seluas 30 are tersebut –1 are sama dengan 10 meter persegi. Di sana, anak-anak belajar sembari menikmati alam terbuka sejak pagi hari.

Mereka mengenal dan mempraktikkan secara langsung materi yang didapat oleh guru mereka. Pendiri sekaligus pemilik Trihita Alam Eco School, M. Harwanto Siregar menceritakan, sekolah miliknya itu telah berdiri sejak empat tahun lalu.

Ada 60 murid yang telah bergabung dalam Trihita Alam Eco School. “Saat ini anak-anak tergabung dalam play grup, TK kecil, TK besar, dan SD baru sampai kelas 2,” ucap perempuan yang dipanggil Miss Wanti oleh anak didiknya itu, Senin, 29 Mei 2017.

Ia menceritakan awal mula menemukan ide membuat sekolah berbasis alam. Sebagai insan yang telah berkecimpung selama 25 tahun di dunia pendidikan, ia kemudian mencoba berinovasi agar anak-anak nyaman belajar menerima materi yang disampaikan 10 tenaga pengajar mereka.

Suatu ketika, ia mengirim guru untuk mengikuti Konferensi Guru di Amerika Serikat. Beberapa guru berprestasi dari berbagai daerah seperti Aceh dan beberapa daerah lainnya dikirim mengikuti konferensi di Negeri Paman Sam.

“Mereka menilai materinya memang bagus, sangat bagus. Tapi begitu kembali ke daerah asalnya, apakah konsep itu bisa diterapkan, ternyata tidak bisa,” kata Miss Wanti.

Berangkat dari situ, ia kemudian berpikir untuk mencari konsep pendidikan sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Ia menggali kelemahan dan kelebihan sistem pendidikan Indonesia.

“Zaman terus berubah. Anak-anak sekarang susah konsentrasi belajar di dalam ruangan. Pendidikan kita masalah lebih ditekankan kepada anak,” ujar dia.

Saat yang sama keadaan sekolah tak terlalu kondusif. Apalagi, konsep sekolah saat ini adalah konsep yang dipakai 100 tahun lalu. “Padahal handphone, mobil, televisi tiap tahun saja berubah, tapi konsep sekolah kita stagnan.”

Dari sana ia kemudian melahirkan ide untuk membuat sekolah dengan konsep belajar di alam lepas. Konsep ini dianggap tepat diterapkan pada situasi saat ini.

“Pendidikan juga harus mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman,” katanya.

Pendidikan, Miss Wanti melanjutkan, saat ini harus mampu dicintai oleh anak-anak agar mereka tak larut dalam kemajuan teknologi yang mengganggu perkembangan mereka. Ia pun tertantang untuk menyajikan pendidikan untuk anak-anak zaman ini.

Gadget memiliki energi yang begitu kuat untuk menarik anak-anak. Nah, sebaliknya, kita harus menciptakan pendidikan yang mengalihkan perhatian mereka dari dunia gadget. Pendidikan berbasis alam ini salah satu jawabannya,” tutur dia.

“Anak-anak ini kalau di dalam kelas dia akan habis juga energinya. Kita harus bawa dia ke luar (ruangan kelas) seperti ini (sekolah berbasis alam),” kata Miss Wanti.

Di sini, menurut dia, anak-anak tak hanya mendapatkan materi satu arah dari tenaga pengajar. Mereka bisa berinteraksi, bahkan mempraktikkan materi yang mereka dapat secara aplikatif.

Di sekolah ini, anak-anak belajar langsung dari tumbuh-tumbuhan dan makhluk hidup. “Bukan belajartext book yang monoton seperti PR (pekerjaan rumah), ujian dan sebagainya,” tutur dia.

“Satu-satunya yang lebih menarik dari gadget adalah alam. Persoalan yang kita hadapi begitu kita ke luar lupa sama barang elektronik itu. Sekolah itu harus begitu, harus bisa membuat anak-anak meninggalkan gadget,” ucapnya.

Kendati berbasis alam terbuka, sekolah ini juga tetap berbasis kurikulum sesuai yang dicanangkan pemerintah. Hanya saja cara dan lokasi mengejarnya berbeda. Di sekolah tersebut, bilingual juga ditekankan pentingnya pendidikan budaya.

“Tujuannya agar kecerdasan anak-anak terbangun, di sisi lain mereka juga cinta dengan budaya Indonesia,” katanya.

Apresiasi tak hanya datang dari alam negeri, sejumlah negara pernah membuat studi banding ke sekolah yang teduh dan asri ini. “Ada dari Prancis, Spanyol dan Portugal yang pernah mengirim guru mereka untuk studi banding ke sini. Lalu ada Australia dan Amerika juga yang ingin menerapkan sekolah seperti di negaranya,” ujar Miss Wanti memungkasi penjelasan seputar sekolah alam di Denpasar tersebut.

http://regional.liputan6.com/read/2974498/keceriaan-pagi-bocah-denpasar-belajar-di-alam-terbuka